Rumah Kecil Kami

Kami adalah sekumpulan manusia yang bertindak sesuka hati kami, biar orang bicara dan memandang sebelah mata terhadap kami. Ah tak apa, toh kami tidak melakukan hal buruk terhadap hidup mereka. Kami hanya sekumpulan manusia yang penuh sejuta imajinasi, berekspresi melalui kreativitas. Senja, seni dan kopi, mereka sahabat kami. Senja selalu indah bila dinikmati dari beranda rumah sederhana kami. Musik, sastra kuno menjadi bahan perbincangan kami dari pagi hingga senja berganti malam. Kopi bagaikan air bening yang wajib menjadi suguhan rumah kami, ya ada sedikit cemilan untuk menemani agar kopi kami tak terlalu pahit. Namun tanpa ada cemilan pun kopi kami tak terlalu terasa pahit, karena kebersamaan kami selalu membuatnya manis. Bahkan lebih manis dari minuman termanis di dunia.

Biar ku ceritakan rumah kami yang mungkin saat ini sedang kau gambarkan sebagai rumah yang nyaman dan asyik. Ya, memang begitu nyatanya. Rumah kami ini kecil dan sederhana, bukan berbentuk apartemen atau rumah tipe 21. Tapi cukuplah bagi kami untuk berlindung. Namun, sengaja rumah kami tak berjendela, agar kami lebih mudah melihat matahari tenggelam di sore hari. Rumah kami pun tak memiliki perabotan mewah, hanya ada sebuah meja tua terletak di pojok ruangan sebagai tempat menaruh buku bacaan, tak ada meja marmer dengan toples cemilan, cokelat dan bunga hias di atasnya. Bahkan kami tak punya kasur untuk berbaring. Lantas di mana kami tidur? Lantai di rumah kami ajaib selalu terasa empuk tiap kali kami berbaring di atasnya. Entah mengapa. Ada saja diantara kami yang mampu tertidur lelap, meski suasana rumah sedang gaduh oleh makhluk-makhluk berdarah seni. Dari pagi hingga sore hari kami habiskan waktu di rumah ini. Lebih parah jika malam hari tiba, mata kami tak mau terpejam, seperti ada solatip menempel antara kelopak mata dan alis menarik mata untuk terbelalak. Tak ada kantuk, malah kami semakin bersemangat. Semangatnya seperti akan menonton konser sang idola yang sudah bertahun-tahun hiatus, dapat kau bayangkan? Ya, seperti itu lah rasanya.

Jujur saja, rumah kami berantakan, kertas-kertas bahan diskusi berserakan di mana-mana, kabel dari charger laptop serta handphone saling membelit berebut aliran listrik, bungkus alat musik bertebaran, smartphone harga mahal bergeletak di sembarang tempat, tak jarang ada gelas kopi yang tumpah tersenggol kaki yang ceroboh. Anehnya, ada yang janggal bila rumah kami tak seperti ini.

Pernah suatu ketika, kami didatangi petugas dari dinas kebersihan yang sedang menggalakkan hidup sehat. Melihat rumah kami, mereka terkejut dan kesal bukan main. Kami diberi peringatan. Listrik rumah kami dicabut, kami berpikir ada yang aneh disini bagaimana bisa seorang petugas dinas kebersihan mencabut listrik sebuah rumah? Ternyata usut punya usut, ia melaporkan rumah kami ke perusahaan listrik negara agar listrik kami dicabut izinnya. Sungguh tak punya hati, semoga kelak kami bertemu dengannya di surga.

Sejak saat itu, kami lebih rajin menjaga kebersihan rumah kami. Sebenarnya rumah kami bersih dari sampah, hanya saja terlihat 'sedikit berantakan'. Mungkin itu yg membuat petugas kebersihan tadi garang. Pencabutan listrik rumah kami sempat membuat kami tak bisa melakukan aktivitas. Tak ada kabel charger yang saling membelit. Gitar listrik dan bass elektrik yang kami miliki pun tak bisa mengeluarkan suara. Satu-satunya hal yang kami lakukan adalah minum kopi bersama dan melakukan perbincangan hangat. Ajaibnya, peristiwa pencabutan listrik ini semakin mengeratkan kebersamaan dan kekeluargaan di rumah kami. Kami tak kehabisan akal, sudah kubilang diawal bahwa kami adalah sekumpulan manusia yang penuh kreatifitas. Kami berhenti beraktivitas bukan berarti kami berhenti berkreatifitas.

Tanpa listrik, kami mampu membuat karya, salah satu anggota keluarga kami mengumpulkan barang yang masih berguna. Disuruhnya anggota keluarga yang lain untuk membeli cat beragam warna, mengumpulkan ide dan membuat artikel. Dibuatnya sebuah majalah berbentuk papan, yang dibagian belakangnya ada sebuah penyangga. Kami mendekorasi sedemikian rupa menarik agar barang bekas itu tak lagi terlihat seperti barang bekas. Menggambar karikatur, menulis, menyipratkan cat di atas kanvas, sungguh menyenangkan. Kira-kira setelah dua jam baru kami bisa menyelesaikan majalah papan itu. Kini kami bisa berbagi informasi lewat majalah papan kami itu, kami ubah topik informasi sesuai dengan berita yang sedang booming di setiap minggu. Tak jarang kami menempelkan pamflet-pamflet info malam puisi atau diskusi sastra yang diadakan di luar rumah. Bahkan sebagai pemberitahu jika ada barang kami yang hilang, sungguh serbaguna papan lebar itu.

Semakin waktu berlalu, kami merasa butuh rumah kami yang dulu. Rumah yang penuh berisik musik, semua lenyap sejak tak ada listrik. Saat semua sedang duduk termangu, tiba-tiba saja seorang tetangga yang kami kenal baik, tidak sombong, dan rajin menabung datang ke rumah kami. Ia menjelaskan maksud kedatangannya, ternyata berkat rajin menabungnya dia mampu pergi ke tanah suci tahun ini. Dia hidup sebatang kara. Alih-alih rumahnya yang takut dimakan kermit dan digotong semut, ia berniat menitipkan rumahnya kepada kami. Ia turut prihatin melihat keadaan kami yang gelap gulita tanpa adanya pelita. Dengan semangat dan raut sumringah kami saling bertatapan, otomatis semua kepala mengangguk. Tetangga itu pergi, dan esoknya kami melepasnya pergi untuk menyempurnakan rukun islam kelima. Sejak saat itu rumah kami kembali seperti sediakala, listrik kembali menyala. Kami bisa berkreatifitas tanpa kendala.

Comments

Popular posts from this blog

Summary of Short Story : The Cat by Banjo paterson

Untitled

Regat