Bukan Fiksi

Oleh Diah Ayuningtyas

Aku hanya sekumpulan daging dan tulang yang tak berarti apa-apa. Siap diterkam hewan buas dan sudah kusiapkan hatiku menjadi menu utamanya, biar tercabik oleh mereka. Tak apa, bagai syuhada, aku mati untuk bahagiamu. 

Entah, bahagiakah kau? Lihat aku kini berjalan terseok-seok mengejarmu yang tengah berlari. Persediaan airku habis, kini kita bagaikan berada di tengah lautan pasir yang tak berujung. Terik. Satu-satunya sumber air adalah peluhku dan peluhmu. 

Lebih kupilih berjalan beriringan denganmu daripada berkejaran seperti ini. Lelah. Ini semua adalah kesengsaraan, tapi bukan Sengsara Membawa Nikmat seperti karya Marah Rusli. Maaf, Sayang, kisah kita bukan fiksi. 

Masih kita berlari di tengah padang pasir ini. Aku terseok, sesekali ku duduk beralaskan pasir lembut dan berniat habisi hidup tertelan badai. Tak sanggup ku terjang kau yang masih berlari dengan kuatmu.

Terus ku mendamba, bermimpi dan bertanya; adakah di depan sana oasis yang dapat menyejukkan rasa haus kita?

Juli, 2016.
Catatan di ruang depan. 





Comments

Popular posts from this blog

Summary of Short Story : The Cat by Banjo paterson

Untitled

Regat