Catatan Kecil Sebelum Tidur



Pernahkah kamu mendamba seseorang meski hanya dalam diam? Yang tak menyapanya, kecuali dalam doa dan diam kala hening malam. Tak menatapnya, kecuali sebatas punggungnya, atau banyangnya saja...

Aku pernah merasakan itu, aku mendamba seseorang, meski ia sulit kugapai. Sinarnya terlalu menyilaukan, hingga aku tak mampu menatapnya. Memikirkannya saja aku takut, tinggi anganku jika sudah bermimpi tentangnya. Terkadang air mata ini terjatuh, bila aku telah jatuh terlalu dalam.

Belum menyangka perasaanku akan sebesar ini. Ibarat dinamika kepribadian seseorang di buku teori psikologi Freud, seperti itulah perasaan itu bersembunyi, layaknya gunung es yang ada di lautan. Yang tampak hanya permukaan kecilnya saja, nun jauh di bawah, perasaan untuknya begitu besar.

Tak jarang aku menabrak perasaanku, dengan satu kata; mustahil. Perasaan yang ada di bawah permukaan atau jauh di dalam hatiku, mengatakan sebaliknya. Aku selalu berakhir jatuh, tertidur, dan bermimpi. Begitu setiap hari, hingga nanti aku lupa caranya tertidur karena aku tak mau melewatkan hari saat dia berada di sisi.


Comments

Popular posts from this blog

Summary of Short Story : The Cat by Banjo paterson

Untitled

Regat