Sastra Anak: Sastra yang Tersingkirkan

Kamis, 18 Mei 2017
KAJIAN SASTRA RUSABESI
Sastra Anak: Sastra yang Tersingkirkan
Oleh: Diah Ayuningtyas

Latar Belakang
Sastra anak merupakan sastra yang tersisihkan dan sedikit peneliti yang memperhatikan sastra anak. Tidak banyak pemerhati sastra anak di Indonesia, menurut Trimansyah (Dra. Sugihastuti 72), sastra anak hampir tidak digubris jika tidak ada Riris K. Toha Sarumpaet, Sugihastuti, Christantowati, dan Murti Bunanta yang rajin berbicara tentang sastra anak. Sebenarnya sastra anak-anak tidak jauh berbeda dengan sastra orang dewasa (adult literacy). Keduanya sama berada pada wilayah sastra yang meliputi kehidupan dengan segala perasaan, pikiran dan wawasan kehidupan. Yang membedakannya hanyalah dalam hal fokus pemberian gambaran kehidupan yang bermakna bagi anak yang diurai dalam karya (Novi Resmini 2). Sastra anak di Indonesia, meski minat baca anak-anak terhadap buku bacaan anak cukup tinggi, munculnya karya sastra anak terjemahan menenggelamkan eksistensi karya sastra anak Indonesia yang secara tidak langsung sangat berdampak bagi keberadaan karya sastra anak Indonesia yang bisa jadi tersingkirkan.

Sejarah Singkat Sastra Anak
Perkembangan dari sastra anak di dunia awalnya muncul dalam bentuk sastra lisan yang kemudian berkembang menjadi bentuk sastra tradisional, seperti cerita rakyat, fabel, mitos dan legenda. Cerita-cerita ini tersebar di Eropa, salah satu diantaranya adalah Jacob Ludwig Carl Grimm dan Wilhelm Carl Grimm atau yang sudah kita kenal dengan sebutan Grimm Bersaudara, yang mengumpulkan cerita-cerita rakyat Jerman. Cerita Grimm Bersaudara yang terkenal di antaranya adalah Snow White and The Seven Dwarfs, The Musicians of Bremen Town, Rapunzel, dan Hansel and Gretel yang menjadi warisan bagi dunia sastra anak.
Selanjutnya pada abad ke-19, mengikuti jejak Grimm bersaudara, Jorgen Moe dan Peter Asbjornsen pun mulai mengumpulkan cerita-cerita rakyat di Norwegia. Cerita yang paling terkenal pada masanya adalah The Three Billy Goats Gruff, East o’ The Sun and West o’ The Moon, and Gudbrand on the Hillside (Garvey 476). Selain cerita rakyat, muncul pula legenda di Inggris, yakni Beowulf (latar di Skandinavia), Robin Hood, dan King Arthur and His Knight of The Round Table. Di Irlandia, Two Great Irish Cycles, Chuculain -The Hound of Ulster, Finn Maccool and The Fianna adalah cerita legenda paling populer di kalangan anak-anak (Garvey 478).
Di Amerika, buku anak sebelum abad 20 kebanyakan mengandung unsur didaktik dan moralistik. Maksudnya adalah untuk menyediakan pendidikan dan mengajarkan moral anak-anak (Lynch-Brown dan Tomlinson 227). Pada Abad ke-19, karya sastra klasik bermunculan Amerika, yang terkenal adalah Alice’s Adventures in Wonderland karya Lewis Caroll (1865), Charlotte’s Web karya E.B White. Kemudian, sistem dari pendidikan publik di Amerika Serikat memiliki perkembangan yang baik. Ditambah lagi, perpustakaan pun berhasil dikembangkan untuk sastra anak sampai kepada abad 20 dimana American Library Association (ALA) membuka divisi untuk materi-materi dan pelayanan anak (Lynch-Brown dan Tomlinson 228). .
Seiring area perpustakaan bertumbuh, diikutilah dengan penerbitan beberapa buku anak. Sebagai contoh, Peter Pan karya J.M Barrie (1904), The Wizard of Oz karya Kenneth Grahame (1908), Millions of Cats (1928), Abraham Lincoln (1939) karya Wanda Gag, Ingri and Edgar d'Aulaire, dan  Robert McCloskey, Pippi Longstocking oleh penulis anak Swedia, Astrid Lindgren (1950), dan The Lion, the Witch, and the Wardrobe by C. S. Lewis (1950) (Lynch-Brown dan Tomlinson 229).

Hakikat Sastra Anak
Mungkin kita semua sudah tahu bahwa sastra berbicara tentang hidup dan kehidupan, tentang bagaimana persoalan hidup manusia. Semua diungkapkan dalam cara dan bahasa yang khas, yakni bahasa yang terkandung unsur dan tujuan keindahan. Lukens (Nurgiyantoro 3), mendefinisikan sastra sebagai pemberi kesenangan dan pemahaman, ia menegaskan alasan anak diberi buku bacaan adalah agar mereka memperoleh kesenangan. Selain itu, sastra pada hakikatnya merupakan citra kehidupan, yaitu penggambaran model kehidupan seperti dalam kehidupan nyata yang mudah diimajinasikan saat kita membacanya.
Namun, apakah semua yang memiliki karakteristik di atas begitu saja bisa dinyatakan sebagai sastra anak? Tomlinson dalam bukunya Essentials of Childern’s Literature (2) mendefinisikan bahwa sastra anak adalah sebuah penciptaan buku bacaan berkualitas bagi anak-anak sejak bayi sampai remaja. Sastra anak mengemas topik yang relevan dan menarik bagi anak-anak pada usianya melalui prosa, puisi, fiksi dan non-fiksi. Konten dari buku bacaan anak adalah tentang pengalaman anak-anak pada masa kecil, buku-buku tersebut harus relevan dengan situasi yang biasa terjadi pada anak-anak. Situasi tersebut bisa saja merupakan hal-hal kecil seperti merayakan pesta ulang tahun, tanggalnya gigi untuk pertama kali, mendapat peliharaan baru, atau hal-hal yang berkaitan dengan keluarga.
Selain itu, Huck dkk. mengemukakan dalam bukunya Children’s Literature: in Elementary School (4), bahwa sastra anak adalah buku yang sengaja disediakan untuk dibaca anak. Isi kandungannya dibatasi oleh pengalaman dan pengetahuan anak sesuai jangkauan emosional dan psikologi anak, itulah yang merupakan karakteristik sastra anak. Ditambah lagi, Huck dkk. menekankan bahwa children’s books are books that have the child’s eye at the center, pendapat yang sama dikemukakan oleh Winch (Nurgiyantoro 7) bahwa buku anak yang baik adalah buku yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak.

Eksistensi Sastra Anak di Indonesia
Jika diajukan pertanyaan apakah sastra anak memang ada atau sudah eksis di Indonesia, dirasa agak gamang menjawab pertanyaan tersebut. Bila definisinya sekedar sebagai buku atau cerita anak, jawaban yang muncul mungkin positif. Namun, jika sastra anak dimaknai sebagaimana hakikat sastra anak, yakni cerita yang ditulis untuk anak yang memiliki nilai sastrawi, maka jawaban yang muncul sangat pesimistis. Sebenarnya potensi minat membaca anak secara umum dapat melegakan, tampak dari larisnya buku-buku anak baik di toko buku atau taman bacaan. Pengalaman penulis saat melakukan pengabdian di sebuah desa daerah Bogor, anak-anak sangat antusias dengan buku-buku anak yang disediakan di taman bacaan.
Namun, sangat disayangkan, buku yang lebih dilirik adalah buku cerita anak karya penulis asing (karya terjemahan) dibanding buku cerita anak karya negara kita sendiri. Lantas mengapa mereka tertarik atas karya sastra versi terjemahan? Sugihastuti berpendapat karena struktur ceritanya yang apik, itulah yang melebihi alasan yang lain. Tidak berkembangnya tema pun salah satu kelemahan sastra anak Indonesia. Meski setiap tahun ratusan judul buku anak karya penulis Indonesia diterbitkan, kebanyakan karya-karya tersebut memiliki tema sama, atau mirip antara satu dan lainnya.
Unsur didaktik yang kuat dan cenderung menggurui pun menjadi tema yang monoton dan kurang menarik. Pembaca pemula (anak-anak) di Indonesia umumnya mengenal bacaan dari majalah anak-anak seperti Bobo, Si Kuncung, Mentari, juga buku bernuansa islami dari Mizan. Jika tidak melalui membaca, anak-anak mengenal cerita rakyat melalui dongeng yang disampaikan oleh guru atau orang tua, cerita favorit yang diberikan adalah Timun Emas,Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih, Cindelaras, Sangkuriang, Lutung Kasarung, atau Joko Kendil.
Ditambah lagi, sederetan buku bacaan terjemahan anak yang laris di toko buku pasti tidak terlepas dari komik, siapa yang tidak mengenal Crayon Shinchan, Yu Gi Oh!, Detektif Conan Special, Naruto, atau Cerita Spesial Doraemon. Seri Pustaka Kecil Disney pun tidak mau kalah, menerbitkan 29 judul buku beberapa diantaranya Cinderella, Putri Aurora, dan Putri Salju dan Tujuh Orang Kerdil seringkali tampak di pasaran. Dongeng klasik dan modern tampil dalam seri Ayo Membaca, antara lain Hari-Hari yang Indah, Pekerja-Pekera yang Rajin dan Rumah yang Paling Indah (Dra. Sugihastuti 82)
Tak ketinggalan, Enid Blyton, yang telah mengarang lebih dari 700 judul buku yang diterjemahkan ke dalam 129 bahasa. Karyanya bertebaran di Indonesia diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU), tidak kurang dari 28 judul Seri Mini Noddy, 21 judul seri Lima Sekawan, 6 judul Seri Komplotan, dan 6 judul Seri Mallory Towers (Dra. Sugihastuti 83). Karya-karya ini tentu saja kualitas fisiknya yang jauh lebih baik daripada kualitas fisik karya lokal. Karya-karya terjemahan muncul dengan kualitas tampilan gambar, warna dan kertas yang lebih menawan.
Karya para pengarang sastra anak Indonesia sesungguhnya bukan tidak ada, beberapa di antaranya juga diterbitkan di GPU dan penerbit-penerbit lain. Salah satu di antaranya penerbit Mizan yang memelopori terbitan serial Kecil-Kecil Punya Karya. Jika kita kembali mengingat penulis sastra anak terdahulu ada Djoko Lelono dengan serial Astrid dan karya Anak Rembulan: Negeri Misteri di Balik Pohon kenari (2011), Dwianto Setyawan dengan karyanya yang fenomenal di era 80-90’an seri Sersan Grung-Grung dan seri Kelompok 2&1, Arswendo Atmowiloto dengan karyanya seperti serial Kiki dan Komplotannnya, serial Imung, dan Keluarga Cemara (MA).
Salah satu pengarang sastra anak Indonesia yang sukses adalah Murti Bunanta, yang karya dwibahasa-nya Si Bungsu Katak  terbitan Balai Pustaka 1998 mendapat penghargaan internasional, The Janusz Korsczak International Literary Prize Honorary Award dari Polandia, Murti Bunanta pun mendapat beberapa penghargaan untuk karya-karyanya yang lain. Murti Bunanta juga diminta menuliskan buku cerita rakyat Indonesia dan diberi judul Indonesian Folktales yang terbit pada tahun 2003 (MA). Kini Murti Bunanta memimpin Kelompok Pecinta Bacaan Anak (KPBA).
Kesimpulan
Sastra anak merupakan sastra yang harus berangkat dari kacanmata seorang anak, memiliki unsur didaktik namun pembawaan cerita harus sesuai dengan emosional anak, menyenangkan dan memberi pemahaman yang mudah. Masuknya karya terjemahan ke Indonesia telah menenggelamkan karya-karya lokal. Meski ratusan karya sastra anak lokal diterbitkan tiap tahunnya, kalah saing dari segi struktur cerita dan perkembangan tema merupakan kelemahan utama sastra anak Indonesia sendiri.

Mari berbenah sastra anak Indonesia.


Works Cited
Dra. Sugihastuti, M.S. Teori Apresiasi Sastra. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2002. Print.
Garvey, Leone. "What Is Children's Literature." National Council of Teachers of English 41 (1964): 475-483. PDF. 17 April 2017. <http://www.jstor.org/stable/41385673>.
Huck, Charlotte S., et al. Children's Literature in The Elementary School. 8th. New York: McGraw Hill, 2004. Book.
Lynch-Brown, Carol and Carl M. Tomlinson. "Children's Literature, Past and Present: Is There a Future?" Peabody Journal of Education 73.Literacy Education in the 21st (1998): 228-252. PDF. <http://www.jstor.org/stable/1493206>.
MA, Dr Murti Bunanta SS. n.d. Website. <http://www.kpba-murti.org>.
Novi Resmini, M.Pd. "Sastra Anak dan Pengajarannya di Sekolah Dasar." (n.d.). PDF.
Nurgiyantoro, Burhan. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2013. Print.
Tomlinson, Carl M and Carol Lynch-Brown. Essentials of Children's Literature. 4th. Boston:
Allyn and Bacon, 2002. Print.


Comments

Popular posts from this blog

Summary of Short Story : The Cat by Banjo paterson

Untitled

Regat